
BIODATA
Lahir : 17 Desember 1994 di Kota Pasay, selatan Manila (Filipina).
Orang tua : –
Wafat : 23 September 2012 di Quezon City, Filipina dalam usia 17 tahun.

MASA KECIL
Darwin Ramos adalah seorang anak jalanan, miskin, namun ahli dalam menemukan kebahagiaan. Ia merupakan anak kedua dari sembilan bersaudara. Ibunya bekerja mencari nafkah sebagai pencuci pakaian, sedangkan ayahnya adalah seorang pecandu alkohol. Mereka berasal dari keluarga yang sangat miskin.
Kondisi keluarga yang sangat miskin membuat Darwin Ramos bersama saudara perempuannya, Marimar, yang usianya dua tahun lebih muda darinya harus bekerja menjadi pemulung. Mereka menghabiskan hari-hari mereka dengan memungut sampah plastik yang kemudian dijual dengan harga yang sangat murah. Hal itu, mereka lakukan demi terpenuhinya kebutuhan akan makanan.

Pada sekitar usia 6 tahun, Darwin didiagnosis mengalami Duchenne Muscular Dystrophy (DMD). Duchenne muscular dystrophy adalah kelainan genetik langka yang menyebabkan kelemahan dan kerusakan otot rangka serta jantung yang memburuk secara bertahap dan cepat. Gejala awal penyakit ini bermula dari kelemahan otot pada kaki yang membuat Darwin semakin sering tersandung hingga akhirnya, Darwin tidak bisa lagi berdiri dan tubuhnya pun menjadi lemah. Namun, ayah Darwin malah memanfaatkan penyakit anaknya dan tanpa belas kasihan meninggalkannya di stasiun Libertad untuk mengemis kepada orang-orang yang berada di sekitar stasiun.

Pada tahun 2006, sekelompok pendamping anak jalanan dari Yayasan ANAK-TnK (Tulay ng Kabataan) artinya “jembatan bagi anak-anak”, bertemu dengan Darwin di Stasiun Libertad. Mereka mengajak Darwin untuk tinggal bersama-sama dengan mereka. Darwin setuju untuk tinggal di pusat yang dikelola oleh Yayasan ANAK-TnK dan ia pun tinggal bersama anak-anak berkebutuhan khusus lainnya.
Akibat penyakit yang dideritanya membuat Darwin sering mengalami sesak napas yang mengharuskannya dirawat di rumah sakit. Meskipun dalam kondisi seperti itu, ia tak pernah mengeluh dan selalu tersenyum. Malahan ia selalu menjadi penghibur bagi para staf Yayasan ANAK-TnK dan anak-anak lainnya melalui kata-katanya yang khas yaitu “Terima kasih” dan “Aku mencintaimu”.
Bahkan Darwin tak pernah sekalipun berbicara tentang penyakitnya, melainkan tentang misi yang telah diberikan Kristus kepadanya. Darwin selalu menjalin hubungan pribadi dan kedekatan yang mendalam dengan Yesus. Tak ada satu hari pun berlalu tanpa doa dan menyerahkan dirinya kepada Yesus. Yesuslah yang menjadi prioritas utama dalam hidupnya.

KESALEHAN/TELADAN/MUKJIZAT
Dalam keterbatasan fisiknya, Darwin tidak pernah mengeluh tetapi ia selalu tersenyum dan mau menjadi penghibur bagi orang-orang di sekitarnya. Darwin yang bersatu erat dengan Tuhan dalam penderitaannya, akhirnya merasakan Sukacita atas kemenangan ini.
SAAT AKHIR
Pada 16 September 2012, Darwin mengalami kesulitan bernapas sehingga ia harus membawanya ke ruang gawat darurat PCMC (Philippine Children’s Medical Center di Quezon City). Dalam kondisi tersebut, Darwin meminta maaf kepada pastor dari Yayasan ANAK-TnK yang datang menjenguknya.
Demikianlah dimulailah “Pekan Suci” Darwin, persis seperti Kisah Sengsara Kristus.
Pada hari Kamis, Darwin mengalami pertempuran rohani:
• Darwin: “Kita harus berdoa.”
• Pastor: “Tentu saja, Darwin, tapi mengapa kamu perlu berdoa?”
• Darwin: “Karena aku sedang berjuang.”
• Pastor: “Berjuang melawan penyakitmu?”
• Darwin: “Aku sedang berjuang melawan iblis.”
Pada hari Jumat, Darwin tampak damai dan tersenyum lebar. Dengan susah payah, ia menuliskan dua kalimat terakhirnya di buku catatan: “Terima kasih yang sebesar-besarnya” dan “Aku sangat bahagia” sebagai tanda pertempuran yang dimenangkan.

Pada hari Sabtu, Darwin memasuki keheningan yang mendalam, namun ia tetap sepenuhnya sadar.
Pada hari Minggu, 23 September 2012, ia meninggal di sebuah rumah sakit (di Keuskupan Cubao) pada pukul 05.30 pagi, tepat pada saat matahari terbit, pada jam yang sama ketika Kristus bangkit dari kematian.
WEBSITE: https://darwin-ramos.org/darwin-ramos-biography/
